Jika dilihat dari sisi industrinya, landskap dunia penyiaran di Indonesia, termasuk jurnalisme televisi, sedang berada dalam proses pembentukan diri. Sementara ini, faktor dominan yang terlihat dalam pembentukan itu adalah kepentingan ekonomi sebagaimana tercermin dalam budaya media. Sayangnya, televisi yang berlandaskan kepentingan ekonomi ini seringkali sensitif dengan segala permasalahan yang dihadapi oleh publik. Kepentingan publik terkooptasi oleh berbagai kepentingan lain, seperti bagaimana dapat meningkatkan rating setingggi-tingginya untuk dapat menjaring lebih banyak pemasang iklan.
.
Oleh karena itu, jurnalisme televisi yang berbasiskan partisipasi publik dapat saja menjadi sebuah hal yang menjanjikan di masa depan. Dalam jurnalisme itu, publik bukan lagi merupakan obyek, komoditas, atau produk yang dijual kepada para pemasang iklan, tetapi publik memiliki pengaruh untuk menentukan isi berita sesuai dengan kebutuhannya. Publik dapat memiliki program pemberitaan itu sejauh mereka dapat memanfaatkannya sebagai ruang terjadinya dialog secara rasional.
.
Itulah tantangan yang harus dihadapi oleh Liputan 6 SCTV di masa depan untuk membangun ruang publik dan untuk membentuk kemampuan melek media di kalangan publik pemirsa. Pembangunan ruang publik diperlukan agar publik memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pembentukan opini guna memperkuat civil society. Pembentukan kemampuan melek media diperlukan agar publik dapat menganalisis budaya media secara kritis dan sekaligus menggunakan media itu sebagai sarana kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Belum ada ulasan.