- Buku ini hadir di saat yang tepat, saat Indonesia dibayang-bayangi ketergantungan kepada pangan impor. Ide-ide di dalam buku ini sangat realistis dan aplikatif, walaupun berasal dari pendekatan yang akademis. Para pembuat kebijakan pangan dan pertanian di pusat maupun di daerah perlu membaca buku ini. (Ir. H. Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)
- Kami sangat senang Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu berinisiatif mengembangkan pangan nonberas sebagai sumber pangan utama. Diharapkan model terintegrasi ini dapat mengatasi masalah kemandirian pangan bangsa kita. (H. Junaidi Hamsyah, M.Pd., Gubernur Bengkulu)
- Sudah banyak wacana kedaulatan pangan berbasis sumberdaya lokal dikemukakan oleh para ahli dan tokoh, namun belum pernah diimplementasikan. Buku ini memberi harapan baru bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri pangan. (Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto, M.Sc., Ketua Dewan Guru Besar Institut Pertanian Bogor)
- “Liberalisasi (impor bebas) memiliki makna penyeragaman (kebijakan), sedangkan pangan secara watak alamiah mempunyai watak keragaman. Banyak akademisi dan politisi yang terobsesi mendamaikan keduanya. Namun faktanya, pada saat impor dijalankan, urusan pangan menjadi berantakan. Buku ini memberikan panduan dan penjelasan yang kuat, bahwa kedaulatan pangan hanya mungkin diwujudkan jika impor dapat terlebih dahulu ditaklukkan”. (Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, M.Sc., Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Malang)
- Kebanyakan gagasan pembangunan pangan yang dikemukakan oleh para ahli bersifat sektoral. Buku ini, selain telah diimplementasikan, juga menggunakan pendekatan komprehensif. (Prof. Dr. Benyamin Lakitan, M.Sc., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, dan Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian)
Belum ada ulasan.